Pengikut

Rabu, 10 Juni 2009

Pragmatik

Apakah Pragmatik Itu?
1.1. Pengertian
Masyarakat tidak selalu mengatakan apa yang sebenarnya mereka maksudkan. Apa yang mereka maksudkan bisa lebih luas dari apa yang mereka katakana. Sebagai contoh saya berkata, “Di sini panas ya!”. Tetapi yang saya maksudkan adalah untuk seseorag membukakan jendela atau lebih baik membuka jendelanya, atau matikan pemanasnya.
Dalam contoh di atas kita tahu bahwa apa yang penulis maksud bukan panas dalam arti kata sebenarnya, tetapi lebih dari itu, hal ini akan berbeda jika dalam konteks yang lain, tempat yang lain atau keadaan yang lain pula. Dalam kasus di atas, mengapa tidak langsung mengatakan yang sebenarnya, tidak secara langsung menuju topic. Kasus-kasus seperti ini masuk dalam bahasan lingusitik yang dikenal dengan Pragmatik.

1.2 Definisi Pragmatik
Pada awal 1980an, pada saat pragmatic sering dibuat sebagai bahan diskusi dalam linguistic, definisi umum dari pragmatic adalah arti dalam penggunaan dan arti dalam konteks. Walaupun definisi itu cukup untuk menggambarkan pragmatic, tetapi masih terlalu umum karena masih mengandung aspek semantic. Semantic dalam hal perkembangannya pada akhir 1980an, dimana dapat diterima dengan baik di bawah bahasan dari arti penggunaan atau art dalam kenteks. Bukut-bukua terbaru lebih contong membahas tentang satu dari dua topic, yaitu, sama dengan pragmatic dengan arti pembicara (speaker meaning) atau yang sama dengan interpreatasi ujaran (utterance interpretation) –mereka tidak menggunakannya secara eksplisit-- . masalah arit pemcibaca lebih mendekat ke arah penulus yang mempunyai pandangan social lebih luas dalam ilmu linguistic khususnya dalam hal pragmatic. Arti pembicara menurut perhatian ke pembuat pwsannya, tetapi pada waktu yang sama ketidak jelaan dari fakta pada proses interpretasi dengan apa yang ada di dalam pesan antara beberapa tingkatan arti. Definisi terakhir (interpretasi ujaran) lebih cenderung kea rah yang mempelajari kekurangan dari dua definisi tersebut. Kita akan mempelahar pertama kali yan dimaksud tentang tingkatan arti, tingkat dari arti secara abstrak. Kita akan mulai dari arti kontekstual arti ujaran dar melihata kata, frasa atau kalimat (kedua). Untuk yang ketiga kita akan mendapat pengatahuan tentang maksud pembicara, atau yang dimaksud dengan (force) paksaan dalam sebuah ujaran kata.
1.2. Dari Abstrak ke Arah Arti Kontekstual
Arti abstrak lebih berfokus pada sebuah kata, frasa, kalimat

Contoh :
Apa yang diinginkan para pasukan adalah untuk menduduki wilayah ini. Lihatkah hanya sedikit kedisiplinan yang terlihat, kami akan… . Pasukan, yang paling penting. Kami tahu apa arti disiplin sejak dalam pelatihan. Ayah selalu berkata tentang masa lalunya di kamp Catteria pada tahun 1940an. Pada saat itu masih menjadi tentara. Seakan-akan ayah telah di dalam AL, AU, dan Marinir. Cambuk mereka, itulah yang saya katakana. Beri mereka sesuatu yang mengingatkan masa lalu mereka (melewati pantat). Ayah berhenti sejenak dan meneguk tehnya, “Apa yang salah tentang kucing itu?” Lalu siapa saja datang pada waktu itu, Allan berpikir apa yang dimaksudkan dan akan menanyakan setelah peliharaannya sehat,

Jika kita melihat ilustrasi di atas, kucing yan dimaksud adalah kucing dalam arti sebenarnya atau cambuk (dalam bahasa barat) yang biasa digunakan dalam kamp militire pada periode perang. Cambuk juga masuk dalam domain discourse.
Arti abstrak tidak berada pada satu kata, tetapi dapat masuk dalam frasa atau bahkan semua kalimat.
1.3.1 Mengartikan Rasa dalam Konteks
Jika seseorang terlibat dalam percakapan, secara intuisi melihat ke rasa dalam peraasaan kontekstual mereka.

Contoh :
Percakapan ini ku dengarkan di sebuah kereta api, terjadi antara dua orang inggris.
A : “Batu (Lump) apa yang membuat mereka waspada?”
B : “ Coba bacalah”
A : (Membeca dengan suara keras) “Di dalam rekatakn batu yang jatuh”
B : Oh, Apakah sesuatu yang tidak biasa untuk para buruh bangunan? Cara mereka dibayar, atau penggelapan pajak atau mungkin yang lainnya.

Dalam oercakapan di atas kita megetahui batu (lump) yang dimaksudkan adalah bukan batu yang sebenarnya, tetapi mempunyai makna konotasi. hal ini dapat diketahui dengan memahami konteks yang ada dalam pembicaraan. Keadaaan ini dapat terjadi dalam kasusu homonym, homograf atau yang lainya yang biasa mengakitabkan kesalahan pemahaman, namun hal ini dapat dihindari dengan memahami konteks yang ada.

1.3.2 Mengartikan Penunjuk Konteks
Kita perlu mencari poin penting dalam sebuah percakapan, dimanapun kita berada, di bus, di supermarket, kita psti lebih bisa memhami poin pembicaraan, hal ini dikarenan topic pembicaraan biasanya berdasarkan tempat dimana pembicaraan itu terjadi.

Contoh :
“dan hanya terpikirkan olehku, jika dia tidak jatuh dari tempat tidu, ku tidak akan pernah menemukannaya”

Mengapa kita tidak mungkin memahaminya, kita tidak paham apa yang ditemukan. Dalam kasusu ini kita tidak menemukan penunjuk dalam kata. Hal ini berbeda dengan kata “Bahaya, Dilarang Menyentuh!” hal ini jelas untuk melarang menyentuh sesuatu. Dalam pengertian ini, kita mengenal pengertian deiksis, antara lain di sana, di sini, ini, itu (tidak selalu bermakna pengisolasian). Ini dapat terjadi jika kamu tahu yang pembicara maksudkan dan jelas arti percakapannya. Deiksis waktu antara lain kemarin, besok, sekarang juga akan berarti jika kita memahami pembicaraan. hal ini juga berlaku pada deiksis-deiksis lainnya (deiksis orang dan deiksis tertentu –discourse deixis—

1.33 Ambiguitas Struktural
Hal ini berkaitan dengan sintaks. Seperti contoh kucing makan ikan mati, yang mati kucingnya atau ikannya.

1.3.3 Rasa Intereaksi, Penunjuk dan Struktur
Contoh di bawah ini akan menunjukkan ambiguitas strukturan yang juga mengandung ambiguitas perasaan

Pembicara B adalah komentator kriket yang terkenal, Brian Johnson. Pembicara A adalah istrinya
A : Pernahkan kamu melihat “dog bowl”
B: Belum, tetapi saya sudah pernah melihat dog bowl bermain di beberapa inning.

Pasti kita bingung tentang apa arti kata “dog bowl”, apakah itu istilah dalam kriket atau yang lainnya dalam tanda kutip.

1.3.5 Ambiguitas dan Maksud
Kita akan menjelaskan ambiguitas dan maksud yang dapat mengarah ke dalam kesalahpahaman.

Contoh :
Pembicara sedang berada di Genewa, Swiss
Kota ini adalah kota dimana “bank” berada di dekat sungai.

Kita pasti menduga-duga tentang arti kata “bank”. Apakah itu bank dalam arti tempat kita menabug atau bank dalam bahasa inggris yang berarti tepi sungai.

1.4 Arti Ujaran : Tingkat Pertama Maksud Pembicara
1.4.1 Pentingnya Arti Ujaran
Arti ujaran di sini dimaksud adalah konteks dimana pengucapan itu dimaksudkan. Artinya konteks kata atau kalimat cocok atau tidak dengan tempat dimana pembicaraan berada.
Contoh kasus :
Dalam pengadilan ada seseoran pemuda 19 tahun, Derek Bentley, yang terlibat dengan pemuda 16 tahun, Christopher Craig dalam kasusu pembunuhan salah satiu Polisi setempat. Craig menembak polisi dengan alasan pembelaan diri. Pada saat ditahan, Bentley berkata “Biarkan Polisi itu menerimana Christ!” karena perkataan itu, dalam persidangan Bentley dijatuhi hukuman mati karena diduga yang melakukan penembakan, sedang Craig hanya mendapat pengawasan saja.
Dalam contoh kasus di atas kita mengetahui arti pentingnya ujaran.

1.5 Pemaksaan (Force) : Tingkat Kedua dari Maksud Pembicara\
Dalam hal Pragmatik, kita mengetahui paksaan (force). Seperti dalam contoh “Benarkah itu mobilmu? “ sambil menunjuk kea rah mobil anda. Di dalam perkataan itu kita tidak mengetahui apa yang dimaksudkan oleh pembicara, cemooh atau bukan.

1.5.1 Memahami Ujaran dan Paksaan (Force)
1.5.2 Memahami ujaran tetapi bukan paksaan
1.5.3 Memahami paksan tetapi bukan arti ujaran
1.5.4 Memahami bukan arti ujaran dan bukan pakasaan
1.5.5 Hubungan timbale balik antara arti ujaran dengan paksaan

1.6 Definisi Pragmatik
Dalam pragmatic arti secara abstrak dan lebih berguna dari pada arti pengguanaannya. Hal ini berbeda dengan definisi awal. Karena itu teori-teori atau metodologi-metodologi yang ada harus dirubah sesuai dengan perkembangan jaman.
1.6.1 Arti Pembicara
Dalam hal ini, ada dua alasan mengapa penulis, baik secara implicit atau eksplisit telah menggunakan defines dengan tidak perlu membuat perbedaan. Dalam tempat pertama, para linguist bereaksi satu sama lain, biasanya dalam grup ini lebih tertarik dalam tingkatan kedua, yaitu force. Sebagai contoh megapa pembicara tidak secara langsung menunjuk apa yang mereka maksudkan. Hal ini juga dapat membuat pendekatan para linguist mempunyai kelemahan.
1.6.2 Interpretasi Ujaran
Sebaliknya, pendekatan kognitif yang luas yang digunakan oleh para ahli pragmatic lebih berfoukus pada pendengar. Pendekatan ini dapat terlihat berpotensi memberikan penejelasan lebih baik dalam hal pemecahan ambiguitas itu. Hal ini akan sangat sulit jika kita tidak tertarik mengapa pembicara berkata demikian. Jadi harus secara jelas kita mengetahuinya.
1.6.2 Pragmatik : Arti dalam interaksi
Dalam hal ini mencerminkan arti atau poin dalam interaksi (pada suatu percakapan). Dalam suatu komunitas tertentu, pasti mempunyai kata-kata tertentu dalam cara berinteraksi. Kata-kata itu belum tentu dapat dimengerti oleh orang lain di luar komunitas mereka. Karena itu, konteks perkataan sangat berperan penting dala pemahaman suatu pembicaraan.
Contoh “Saya telah menjual rumah itu”. Dan dalam percakapan selanjutnya, mereka dapat mengembangkan poin pembicaraan mereka dalam dalam cakupan property. Ujaran mereka berkembang dalam topic yang cocok dengan keadaan dan situasi, maka pembicaraan mereka akan berjalan secara halus dan dapat dimengerti oleh para pendengar.

1.7 Ringkasan
Dalam bab ini kami telah mendiskusikan hubungan kuat lemahnya definisi yang berbeda dalam pragmatic.

Tidak ada komentar: